SEJARAH YANG AKAN TERHAPUS
Belum hilang dari ingatan ketika lapangan tenis kebanggaan Surabaya, "Embong Sawo", dieksekusi, kini satu lagi tempat olahraga dan ruang terbuka Kota Surabaya terancam hilang. Betapa tidak, rencana tukar guling Lapangan Golf Ahmad Yani seluas 58 hektar dengan sebuah perusahaan kembali mencuat.
Tulisan ini tidak berpretensi untuk masuk pada wilayah hukum yang berkaitan dengan isu tukar guling itu. Tetapi, tulisan ini ingin memberi catatan betapa rentannya ruang publik dan peninggalan sejarah untuk dialihfungsikan.
Memang tidak banyak yang tahu kalau lapangan golf tersebut
memiliki sejarah panjang. Akan tetapi, dari namanya ingatan kita segera bisa merujuk pada seorang pahlawan revolusi yang gugur pada sebuah kudeta tahun 1965. Lapangan ini didirikan tahun 1898 dan awalnya hanya digunakan orang-orang asing, terutama Belanda dan Inggris. Pada 2 Februari 1914 berdiri Surabaya Golf Club. Lapangan ini juga menjadi saksi bisu tiga tentara pelajar yang gugur pada pertempuran dengan tentara Sekutu pada 28 November 1945.
Jenderal Anumerta Ahmad Yani sempat beberapa kali bermain di lapangan golf yang memiliki 18 hole ini sebelum gugur tahun 1965. Mengingat lapangan ini berdiri sejak abad ke-19 dan aspek-aspek yang dikandung sangat kaya dengan nilai-nilai historis, mestinya lapangan ini sejak lama ditetapkan sebagai cagar budaya. Untuk menyegarkan ingatan mengenai apa yang dimaksud dengan cagar budaya,..........( KOMPAS,Senin, 02 Apr 2007 Hal: 4 Penulis: Husain, Sarkawi B )
`Menurut hemat saya,boleh-boleh saja melaksanakan pembangunan demi peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan warga kota Surabaya,tapi,jangan sampai kita menghapus nilai sejarah kota kita sendiri.Ini sama saja dengan melunturkan jati diri kota Surabaya secara perlahan-lahan.
Sejak dulu kita sudah mengenal satu peribahasa bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai sejarahnya.kalau kita tidak menghargai sejarah kotanya sampai kapanpun kita tidak akan menjadi suatu kota yang bisa dibanggakan.sebanyak apapun gedung pencakar langit yang dibangun,sesimetris apapun kota ditata,sebersih apapun suatu kota tapi kalau tempat bersejarahnya tidak ada,itu sama saja dengan orang yang tampan,gagah,atau cantik dan jelita tapi tak punya nama,tak tahu asal usul keluarganya,seperti anak buangan untuk menutupi bobroknya sebuah keluarga.kalau hal ini akan benar-benar terwujud,kenapa tak sekalian TUGU PAHLAWAN dirobohkan saja????
Tulisan ini tidak berpretensi untuk masuk pada wilayah hukum yang berkaitan dengan isu tukar guling itu. Tetapi, tulisan ini ingin memberi catatan betapa rentannya ruang publik dan peninggalan sejarah untuk dialihfungsikan.
Memang tidak banyak yang tahu kalau lapangan golf tersebut
memiliki sejarah panjang. Akan tetapi, dari namanya ingatan kita segera bisa merujuk pada seorang pahlawan revolusi yang gugur pada sebuah kudeta tahun 1965. Lapangan ini didirikan tahun 1898 dan awalnya hanya digunakan orang-orang asing, terutama Belanda dan Inggris. Pada 2 Februari 1914 berdiri Surabaya Golf Club. Lapangan ini juga menjadi saksi bisu tiga tentara pelajar yang gugur pada pertempuran dengan tentara Sekutu pada 28 November 1945.
Jenderal Anumerta Ahmad Yani sempat beberapa kali bermain di lapangan golf yang memiliki 18 hole ini sebelum gugur tahun 1965. Mengingat lapangan ini berdiri sejak abad ke-19 dan aspek-aspek yang dikandung sangat kaya dengan nilai-nilai historis, mestinya lapangan ini sejak lama ditetapkan sebagai cagar budaya. Untuk menyegarkan ingatan mengenai apa yang dimaksud dengan cagar budaya,..........( KOMPAS,Senin, 02 Apr 2007 Hal: 4 Penulis: Husain, Sarkawi B )
`Menurut hemat saya,boleh-boleh saja melaksanakan pembangunan demi peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan warga kota Surabaya,tapi,jangan sampai kita menghapus nilai sejarah kota kita sendiri.Ini sama saja dengan melunturkan jati diri kota Surabaya secara perlahan-lahan.
Sejak dulu kita sudah mengenal satu peribahasa bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai sejarahnya.kalau kita tidak menghargai sejarah kotanya sampai kapanpun kita tidak akan menjadi suatu kota yang bisa dibanggakan.sebanyak apapun gedung pencakar langit yang dibangun,sesimetris apapun kota ditata,sebersih apapun suatu kota tapi kalau tempat bersejarahnya tidak ada,itu sama saja dengan orang yang tampan,gagah,atau cantik dan jelita tapi tak punya nama,tak tahu asal usul keluarganya,seperti anak buangan untuk menutupi bobroknya sebuah keluarga.kalau hal ini akan benar-benar terwujud,kenapa tak sekalian TUGU PAHLAWAN dirobohkan saja????
Posting Komentar
